Mars Smansala (Perjalanan Cinta Seorang Guru pada Sekolah dan Seni)
Mars Smansala
(Perjalanan Cinta Seorang Guru pada Sekolah dan Seni)
Oleh : Asih Dewayanti
Saya masih ingat jelas hari pertama saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 1 Lemahabang, Kabupaten Cirebon, pada tahun 2008. Sebagai seorang CPNS yang ditugaskan di sekolah ini, saya datang dengan semangat mengajar untuk mata pelajara Ekonomi. Tidak pernah terbayangkan saat itu bahwa takdir akan membawa saya menulis sebuah lagu yang kelak menjadi identitas sekolah ini, sebuah mars sekolah yang kini dinyanyikan oleh seluruh siswa : ”Mars SMA Negeri 1 Lemahabang”.
Waktu terus berjalan. Di tahun itu juga, SMA Negeri 1 Lemahabang bersiap
menyambut hari jadinya yang ke-45. Di tengah semarak persiapan itu, saya
dilanda satu kegelisahan: sekolah yang telah berdiri selama hampir setengah
abad ini ternyata belum memiliki lagu mars resmi. Sesuatu yang bagi saya
penting karena sebuah mars bukan sekadar lagu, tetapi juga lambang semangat,
identitas, dan kebanggaan bersama seluruh warga sekolah. Mars ini bisa
dinyanyikan dalam kesempatan resmi maupun non formal, seperti dalam pembukaan
sebuah seminar, perpisahan sekolah, bahkan pada kegiatan-kegiatan euforia
semacam nyanyian penyemangat para suporter dalam pertandingan-pertandingan olahraga
baik di lingkup internal maupun eksternal sekolah.
Sebagai guru ekonomi, tentu latar belakang saya bukan seni. Namun, sejak awal saya ditugaskan di sini, saya selalu tertarik membimbing siswa di bidang vokal dan paduan suara. Maka ketika saya diberi amanat tambahan untuk mengajar Seni Budaya, saya melihatnya sebagai peluang, bukan beban. Di sanalah semuanya bermula.
Dengan bekal semangat dan cinta pada sekolah, saya mulai merangkai lirik dan nada untuk menciptakan Mars SMA Negeri 1 Lemahabang. Saya ingin lagu ini tidak hanya enak didengar, tapi juga bisa membangkitkan semangat siswa, mencerminkan nilai-nilai luhur pendidikan, serta menjadi simbol kecintaan pada almamater.
Prosesnya tidak selalu mudah. Saya bukan musisi profesional, tetapi saya
percaya pada kekuatan niat dan ketulusan. Sedikit demi sedikit, saya menyusun
nada dan kata, sambil membayangkan siswa-siswa saya menyanyikannya dengan penuh
semangat di lapangan upacara. Dan ketika akhirnya lagu itu rampung, tepatnya di tahun 2010, saya pun
memperkenalkannya kepada para siswa. Awalnya di kelas, lalu melalui kegiatan
ekstrakurikuler kesenian tempat saya pertama mendapat tugas membimbina ekstra
kurikuler di sekolah.
Respons
mereka sungguh di luar dugaan. Lagu itu mereka nyanyikan dengan bangga. Dari
tahun ke tahun, semakin banyak siswa yang hafal dan menyanyikannya dalam
berbagai acara sekolah. Lagu itu hidup di tengah mereka. Itu adalah momen
paling membahagiakan bagi saya, melihat ciptaan saya menjadi bagian dari
kehidupan sekolah.
Sebagai orang yang tidak punya latar belakang dan kompetensi di bidang musik, saya saya sangat berterima kasih kepada siswa yang telah dengan senang hati mengiringi tampilan mars itu dengan musik yang mereka kuasai. Beberapa di antaranya mengiringi dengan keyboar sekolah dan gitar. Beberapa yang masih saya ingat di antaranya Reza, Dede Ahmad Purnama, Agustin, Elang, Roland, Wahyu, Dewo, dan Annisa. Begitu pula kepada para dirigent, mereka sungguh luar biasa.
Pada tahun 2023 seorang alumni yang kini menjadi seorang guru vokal - Anggi Pratami Dewi, menawarkan diri untuk mengaransemen ulang mars ciptaan saya supaya lebih nyaman dinyanyikan serta saya tidak perlu tergantung penuh pada ketersidiaan player musik untuk mengiringi mars itu. Tentu saya sangat berterima kasih atas ketulusan hatinya. Saya tak bisa menyembunyikan rasa haru dan syukur. Apalagi saat dinyanyikan dengan sangat luar biasa oleh anak-anak bimbingan saya dalam kelompok paduan suara sekolah ”La Voice”. Sungguh seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Puncaknya terjadi pada tahun 2024. Setelah lebih dari satu dekade lagu itu mengalun di lorong-lorong sekolah dan di berbagai kegiatan, kepala sekolah mengeluarkan surat keputusan resmi yang menetapkan lagu ciptaan saya sebagai Mars Resmi SMA Negeri 1 Lemahabang.
Kini, setiap kali mendengar lagu itu dinyanyikan oleh para siswa, saya
selalu tersenyum. Bukan karena kebanggaan pribadi, tetapi karena saya tahu
bahwa lagu itu adalah warisan kecil yang bisa saya tinggalkan untuk sekolah ini,
tempat di mana saya belajar bukan hanya menjadi pengajar, tapi juga menjadi
pembelajar, pemimpi, dan pencipta. Mars SMA Negeri 1 Lemahabang bukan hanya
lagu. Ia adalah bukti bahwa cinta dan kepedulian, walau datang dari tempat yang
tak terduga, bisa menjadi sesuatu yang abadi. Semoga.
Cirebon, 28 Mei 2025
Baca juga : Mars SMAN 1 Lemahabang
https://dewayantiblog.blogspot.com/2012/09/mars-sma-negeri-1-lemahabang.html



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda