Ijinkan Aku Belajar Menyayangimu, Cerpen : Asih Dewayanti
Ijinkan Aku Belajar Menyayangimu
Cerpen : Asih Dewayanti
oleh Asih Dewa pada 20 Desember 2012 pukul 21:45 ·
Hffh ! Baru kali ini aku merasa benar-benar jadi manusia paling tolol di muka bumi ini. Manusia paling bodoh, bodoh, bodoh ! Nyaris saja kubanting ponsel di tanganku jika saja aku tak ingat bahwa benda itu kudapatkan dengan susah payah. Aku dapatkan itu dari upah menjaga toko besi milik paman sepulang sekolah.
Ya Tuhan sedang kenapa aku ini? Yang kulakukan kali ini adalah perbuatan paling konyol kurasa. Memutuskan hubungan cuma lewat SMS, Dan yang paling keterlaluan, aku sungguh tak tahu bahwa saat pesan singkat itu terkirim, gadisku sedang tergolek tak berdaya di ruang ICU rumah sakit.
Fania kecelakaan, di ICU ( Mama Fania). Begitu bunyi balasan dari sms-ku. Mati, aku ! Aku tak bisa bayangkan bentuk dan warna muka ibunda Fania saat ini. Ya, Fania, sebuah nama yang cantik secantik parasnya. Belakangan hubunganku dengan aktivis Osis yang supersibuk itu memang agak kacau. Ini karena aku sudah dua kali menyampaikan keinginanku untuk memutuskan hubugan khususku dengannya, dan mama Fania tahu hal ini.
Kutelusuri kembali jalan ceritaku bersama Fania. Sungguh tak mudah buatku, seorang lelaki yang kerap dijuluki playboy ini menaklukkan hati Fania. Aku sudah mengenal cinta sejak awal SMP, dan aku enjoy saja dengan beberapa gadis cantik yang menggandrungiku. Rasanya bangga aja bisa bikin cewek blingsatan karena senyumku. Entahlah, aku selalu menyalahgunakan karunia berupa ketampanan ini untuk hal semacam ini.
Pertama kudapati Fania dalam sebuah kegiatan MOS.Saat itu ada beberapa temannya sesama siswa baru yang pingsan karena kelelahan. Dia begitu cekatan membantu tim PMR menanganinya. Mulai dari penanganan awal hingga penanganan setelah siuman. Fania juga membawa perlengkapan kesehatan lengkap. Padahal dia bukan panitya. Dia anak baru juga. Belakangan baru kutahu, Fania adalah anak dokter di Puskesmas dekat rumahku.
“ Hai.” Begitu ia membalas panggilan isengku setiap bertemu dengannya. Busyet, manis amat ! Tapi hingga aku masuk tahun terakhir sekolahku, aku memang cuma mendapatkan kata “hai” dan senyuman manisnya saja. Paling banter ia mau mendengar celoteh gombalku di bawah pohon akasia dekat parkiran motor. Itu saja. Setahun aku kelimpungan mencari tahu tentang dirinya. Mencari penyebab kenapa ia tak begitu saja termakan rayuanku. Tak seperti yang lainnya Aku bahkan bisa berakrab-akrab dengan mamanya yang dokter itu hanya untuk PDKT alias pendekatan. Tapi memang Fania masih sendiri.
Di suatu sore , kusempatkan menjemput Fania untuk sebuah kegiatan di sekolah. Aku memang nekad karena sudah beberapa kali kusampaikan keinginanku untuk menjemputnya selalu saja ditolaknya. Ia paling suka ke sekolah dengan sepeda kayuhnya. Huh, aku ga habis pikir dengan gadis manis ini. Kemana-mana tongkrongannya sepeda ontel. Sementara yang lain bangga berkendaraan sepeda motor model terbaru, eh ini cewe, asyik-asyik saja dengan sepedanya. Sepeda. Kau tahu ? Mending kalau itu sepeda sport impor yang mahal. Ini sih sepeda jadul merek Phoenix warna hijau tua. Bweuuuh. Ga jaman banget !
Tapi sumpah, keunikan demi keunikan yang dimilikinya mebuatku semakin tak kuasa melupakannya. Aku merasa tersungkur banget jika aku tak bisa mendapatkannya. Mangkanya sore itu aku nekad datang ke rumahnya. Bukan sekedar untuk menjemput. Tapi aku harus memproklamasikan perasaanku padanya : aku cinta kamu, Fania. Terima dan balaslah cintaku. Jadilah kau pacarku !
Ya ampun, aku seperti tercekat saat berhadapan dengannya.Fania sudah siap dengan sepedanya saat aku tiba di gerbang rumahnya.
“Hai”, begitu selalu ia menyapaku. “
“Hai juga. Barengan yuk , “ ajakku sambil menunjuk ke motor bututku
“ Ah, kan kubilang...”
“ Ga usah repot-repot jemput !” serobotku, mengulangi kalimat yang biasa ia ucapkan.
“Tuh ngerti ?”
“ Sekali ini aja, please....” pintaku. Fania melirik motorku. Tersenyum. Busyet, sumpah manis banget.
“ Kenapa?” tanyaku
“Ga papa. Boleh deh. Motormu bagus, haha !! Oke ?”
“Oke !”
Gila. Aku seneng banget. Rasanya dag dig dug. Fania mau berboncengan denganku ? Itu prestasi ! Tinggal melangkah ke skenario lanjutan. Ga boleh buang-buang waktu. (Uh...gile. Dasar playboy cap capung aku !).
Begitulah, tanpa banyak cerita, aku pun berhasil membuktikan : aku bisa taklukkan Fania. Gadis manis, lincah, pintar tapi jutek untuk urusan cinta. Perlu perjuangan ekstra untuk meluluhkan hatinya. Anak semata wayang dalam keluarganya ini bener-bener beda. Ia tak menyapaku kalau tak penting-penting amat. Membalas sms ku juga seperlunya saja. Aku tak bisa sembarang waktu datang padanya sekangen apa pun aku. Paling-paling dia akan katakan : besok ajalah kan ketemu di sekolah. Aku mau les dulu. Duh, ampun banget. Les ini les itu. Apa ga capek seharian sekolah ditambah aktif di Osis. Sedangkan aku ? Paling-paling latihan basket dan main gitar saja.
Kami memang jarang tampak bersama. Tapi untunglah Fania suka menyanyi, sehingga aku masih punya kesempatan bersamanya. Setidaknya menyanyi di teras rumahnya di malam minggu. Tapi itu jarang sekali. Tak banyak yang kutahu tentang gadisku sendiri selain kesibukan belajarnya. Mungkin ini yang membuatku mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan ini. Hingga suatu saat..
“ Aku tahu kau bosan...” ujar Fania pelan.
“ Bukan itu....” sergahku.
“ Aku kan sudah bilang, kau tak akan sanggup bersamaku. Pergilah Bayu”.
“ Tapi Fania..” Ah. Gadis itu tak memberiku kesempatan untuk bicara lagi.Ia tinggalkan aku sendiri di teras dan ia berbalik menutup pintu. Kutahu.Kulihat ada titik bening di sudut mataya. Fania menangis !
...
Fania...Fania...aku sayang kau, tau ? Sumpah aku cinta kau. Tapi aku sungguh tak mengerti kau. Mengapa terasa tak nyaman sekali mencintai tanpa bisa memahami? Mengertilah aku, Fania.Aku sangat ingin memahami dirimu. Jangan sembunyikan cintamu dariku, Fania...
Aaaaaahh....ingin rasanya aku menjerit sekencang-kencangnya saat itu. Kenapa saat aku betul-betul (sumpah baru kali ini aku merasa beneran jatuh cinta sejati), aku seperti dipermainkan ?
Fania, kau tega banget sih. Aku tahu kau mengenalku sebagai cowo ga bener. Yang suka mempermainkan perasaan perempuan. Yang suka gonta-ganti temen jalan, Tapi suer, sejak hatiku nyangkutl di senyuman jutekmu aku takluk. siang terbayang-bayang, malam terbawa mimpi. Duh !
Ah Fania. Jadi, aku harus pulang nih dengan kenangan titik air mata di sudut matamu. Maafkan aku, sayang.....
Kini. Aku masih menimang-nimang ponselku yang nyaris kubanting karena kegobloganku. keblo'onanku. Ngaku cinta, ngaku sayang, ngaku kangen, tapi ego segunung. Bah, lelaki macam apa aku ini. Kapan aku berubah ? Kapan aku tobat ?
Faniaaaaa!, tunggu aku. Aku datang untukmu. Jangan mati dulu. Aku sungguh cinta kamu. Tapi...tapi , tolong ijinkan aku belajar untuk itu. Kupacu motor bututku dengan derum knalpotnya yang cempreng. Melibas segala aral demi cintaku: Fania.
ASIH DEWAYANTI
SMA NEGERI 1 LEMAHABANG
JL. KH WAHID HASYIM NO 70
LEMAHABANG KAB CIREBON 45184
HP. 081 222 089 434

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda